Monday, 8 February 2010


Syekh Abdurrahman Siddiq


Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif yang mengabdikan diri di Kerajaan Indragiri. Semasa mudanya, Abdurrahman banyak menulis buku-buku agama, sejarah dan sastra. Ia dikenal dimana-mana bahkan sampai di Mekkah karena ia juga menjadi guru agama. Muridnya tersebar sampai ke Singapura, Malaysia dan Kalimantan.

Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif dikenal sebagai Pujangga dan Sastrawan yang semasa hidupnya mengarang sejumlah buku sasta dan agama. Tuan guru Syekh Abdurrahman, demikian pangilan hormat beliau telah menulis karyanya berupa kumpulan puisi berjudul " Syair Ibarat Kabar Kiamat " yang diterbitkan oleh Ahmadiyah Press Singapura Tahun 1915.

Disamping sejumlah buku-buku sastra, Tuan Guru juga menulis buku-buku agama. Dan menurut sebuah tulisan pujangga muda Riau kelahiran Inhil, Mosthamir Thalib, "untuk Indragiri belum ada yang mencapai secemerlang namanya (Tuan Guru)," tulis Musthamir dalam harian Riau Pos 23 September 2002. Beberapa syair sangat kritis dalam nuansa religius.

Syekh Abdurrahman wafat di Parit Hidayat, Sapat, Kecamatan Kuala Indragiri, Pada Tanggal 10 Maret 1930. Peninggalan Syekh Abdurrahman yang terkenal adalah Masjid yang dibangunnya sendiri pada tahun 1927. Masjid ini berarsitektur khas pada atap dan berada 200 meter dari makamnya.

BIOGRAFI Syekh Abdurrahman Siddiq

Nama : Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banzari
Lahir : Kampung Dalam Pagar, Martapura Kalimantan Selatan, 1857 M/1284 H.
Wafat : Sapat, Tembilahan Riau, Tahun 1939 M/1366 H.
Pendidikan : - Dalam Pagar Martapura
- Mekkah Al-Mukarramah 1889 s/d 1897 M
Karya-karya beliau :
  • Fathu al'Alim fi Tartib al Ta'lim, diterbitkan di Singapura, Matba'ah Ahmadiah, 1322.
  • Risalah 'Amal Ma'rifah, diterbitkan di Singapura : Matba'ah Ahmadiah, 1322.
  • Majmu' al Ayah wa al Hadist fi fada-il al ilmi wa al 'ulama wa al Muta'allimin wa al Mustami'in, Singapura : Matba'ah Ahmadiah, 1355.
  • Kitab Asrar al Sholat min Uddat al Kutub al Mu'tamadah, selesai ditulis tahun 1334/1915, diterbitkan di Singapura: Matba'ah Ahmadiah, 1931.
  • Risalah Sejarah Arsyadiah, Singapura : Matba'ah Ahmadiah, 1354
  • Tazkirah li Nafsi wa li Amtsali, Singapura : Matba'ah Ahmadiah, 1354.
  • Kitab al Fara-id, SIngapura: Matba'al Ikhwan, 1338.
  • Sejarah Perkembangan Islam di Kerajaan Banjar, Singapura: Matba'ah Ahmadiah, 1355.
  • Bay'u al Hayawan li al Kafirin, Singapura: Matba'ah Ahmadiah, 1355
  • 'Aqaid al Iman, selesai ditulis, 1919 diterbitkan di Banjarmasin, 1984
  • Syair Ibarat Khabar Kiamat, Pertama kali dicetak di Singapura oleh Matba'ah Ahmadiah, tahun 1344. Sebelumnya pada tanggal 1 Juli 1915/1344 Kitab ini telah di registrasi oleh Pemerintah Inggris di Singapura.

Jabatan :

  • Diangkat oleh Sultan Mahmud Shah (Raja Muda) sebagai Mufti Kerajaan Indragiri 1919-1939 berkedudukan di Rengat.

K.H. Bustani Qadri


K.H. Bustani Qadri

Nama K.H. Bustani
Qadri
memang
sangat mashur bagi
masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir, sebagaimana Ulama yang menjadi suri tauladan bagi umat. Walaupun dia telah tiada, nama besarnya tetap terkenang bagi masyarakat Inhil.

K.H. Bustani Qadri, terlahir di Sapat Kecamatan Kuala Indragiri Tahun 1921. Sewaktu berumur 5 Tahun di bawa oleh orang tuanya ke tanah suci Mekah, hampir 13 Tahun Beliau mendalami Ilmu Agama di Mekah, Tahun 1941 pulang ke Sapat. Tahun 1943, di Sapat Beliau menikahi Fatimah. Dari pernikahannya dengan Hj. Fatimah, beliau dikaruniai 6 orang anak yaitu : 1.Faridah, 2.Anwar, 3.Hj.Azizah, 4.Ferial Antoni, 5.Nurlaili, 6.Ahmad Riva'at serta dikaruniai 13 orang cucu.

Diantara cucu Beliau yang menjadi ulama di Inhil yaitu Ustad H. Ahmad Rivani dan Ustad H. Ahmad Khusairi.
K.H. Bustani Qadri, dalam pengabdiannya di Indragiri Hilir telah banyak melahirkan Qari dan Qariah yang berlevel Nasional dan Internasional di antara binaan Beliau dalam pengajaran seni baca Al-Qur'an, H.M. Rusli Zainal (Gubernur Riau) yang pernah meraih Juara I Tingkat anak-anak MTQ Nasional dan Hj. Nuraini yang pernah meraih Juara Tingkat Asean di Malaysia.
Semasa hidupnya, Beliau juga aktif di organisasi Nahdatul Ulama, MUI dan LPTQ dan pernah juga menjadi Ketua Yayasan MDA, TPA, TPQ An-Nur Tembilahan, yang sekarang bernama Yayasan Nur Al-Hadar. Beliau juga disibukkan dengan kegiatan sebagai juri/Dewan Hakim pada MTQ baik di Tingkat Kabupaten maupun Propinsi.
Menjelang akhir hayatnya, Beliau dikenal sehari-hari sebagai Imam Besar Mesjid Al-Huda Tembilahan, kemerduan suara dan lafaz tajuidnya membacakan ayat suci Al-Qur'an di usia yang sudah lanjut, ini merupakan suatu rahmat Allah SWT kepada nya.
Sebelum berpulang ke Rahmatullah, Beliau sempat beberapa kali dirawat di Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru, pada hari Jum'at 8 Agustus 2003 dalam perjalanan pulang dari Pekanbaru menuju Tembilahan akibat penyakit yang di deritanya sudah sangat sulit untuk sembuh, di Sorek Kabupaten Pelalawan Beliau meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya. "Selamat jalan Kiai, semoga curahan baktimu bagi negeri ini, mendapat imbalan pahala di sisinya, amin."

Saturday, 6 February 2010


Kabupaten Indragiri Hilir adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Riau, Indonesia yang memiliki motto: "Berlayar sampai ke pulau,berjalan sampai ke batas". Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) beribu kota di Tembilahan. Indragiri Hilir yang merupakan Kabupaten asal Gubernur Riau saat ini, Rusli Zainal (2008-2012) berdiri pada tanggal 20 November 1965, dan saat ini dihuni sekitar 624.450 jiwa.

Suku-suku bangsa yang tinggal di Inhil yang beragam, terhitung: Suku Banjar, Melayu, Bugis, Jawa, Tiong Hoa dll. dengan agama yang mendominasi adalah Islam, serta diikuti oleh Budha dan Kristen.

Sejarah Kabupaten Indragiri Hilir (inhil) Periode Sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia

Kerajaan Keritang
Kerajaan Keritang berdiri sekitar awal abad ke-6 di Kecamatan Keritang sekarang. Seni budayanya dipengaruhi oleh Hindu, terlihat pada arsitektur istana yang terkenal dengan sebutan Puri Tujuh (Pintu Tujuh) atau Kedaton Gunung Tujuh.

Kerajaan Kemuning
Kerajaan Kemuning didirikan oleh raja Singapura ke-V, Raja Sampu atau Raja Iskandarsyah Zulkarnain atau Prameswara. Tahun 1231 diangkat seorang raja muda yang bergelar Datuk Setiadiraja. Letak kerajaan ini diperkirakan berada di Desa Kemuning Tua dan Desa Kemuning Muda. Bukti peninggalan kerajaan berupa selembar besluit dengan cap stempel kerajaan, bendera dan pedang kerajaan.

Kerajaan Batin Enam Suku
Pada tahun 1260, di daerah Indragiri Hilir bagian utara, yaitu di daerah Gaung Anak Serka, Batang Tuaka, Mandah dan Guntung dikuasai oleh raja-raja kecil bekas penguasa kerajaan Bintan, yang karena perpecahan sebagian menyebar ke daerah tersebut.
Diantaranya terdapat Enam Batin (Kepala Suku) yang terkenal dengan sebutan Batin Nan Enam Suku, yakni:

1. Suku Raja Asal di daerah Gaung.
2. Suku Raja Rubiah di daerah Gaung.
3. Suku Nek Gewang di daerah Anak Serka.
4. Suku Raja Mafait di daerah Guntung.
5. Suku Datuk Kelambai di daerah Mandah.
6. Suku Datuk Miskin di daerah Batang Tuaka

Kerajaan Indragiri
Kerajaan Indragiri berdiri sekitar tahun 1298, raja pertama bergelar Raja Merlang I berkedudukan di Malaka. Penggantinya Raja Narasinga I dan Raja Merlang II juga di Malaka. Untuk urusan harian dilaksanakan oleh Datuk Patih atau Perdana Menteri. Pada tahun 1473, Raja Narasinga II, bergelar Paduka Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zirullah Fil Alam (Sultan Indragiri IV) menetap di ibu kota kerajaan di Pekan Tua sekarang.

Pada 1815, Sultan Ibrahim memindahkan ibu kota kerajaan ke Rengat. Masa pemerintahannya, Belanda mulai campur tangan dengan mengangkat Sultan Muda, berkedudukan di Peranap dengan batas wilayah ke Hilir sampai dengan batas Japura. Pada masa pemerintahan Sultan Isa, berdatanganlah orang-orang suku Banjar dan suku Bugis ke Indragiri Hilir akibat kurang amannya daerah asal mereka. Khusus suku Banjar, akibat Kerajaan Banjar dihapus oleh Gubernement pada 1859 sehingga terjadi perangan sampai tahun 1963.

Sejarah Kabupaten Indragiri Hilir (inhil) Periode setelah berdirinya Indonesia

Pada awal kemerdekaan Indonesia, Indragiri (Hulu dan Hilir) masih satu kesatuan kabupaten. Indragiri terdiri atas 3 kewedanaan, yaitu Kewedanaan Kuantan Singingi beribu kota Teluk Kuantan, Kewedanaan Indragiri Hulu beribu kota Rengat dan Kewedanaan Indragiri Hilir beribu kota Tembilahan.

Pemekaran Kabupaten Indragiri
Masyarakat Indragiri Hilir memohon kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Riau, agar Indragiri Hilir dimekarkan menjadi Kabupaten Daerah Tingkat II berdiri sendiri (otonom). Setelah melalui penelitian, oleh Gubernur dan Departemen Dalam Negeri, pemekaran diawali dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau (Propinsi Riau) tertanggal 27 April 1965 nomor 052/5/1965 sebagai Daerah Persiapan Kabupaten Indragiri Hilir.

Pada 14 Juni 1965 keluarkanlah Undang-undang nomor 6 tahun 1965 Lembaran Negara Republik Indonesia no. 49, Daerah Persiapan Kabupaten Indragiri Hilir resmi menjadi sebuah Kabupaten Daerah Tingkat II Indragiri Hilir (sekarang Kabupaten Indragiri Hilir) sebagai salah satu Kabupaten di Riau terhitung tanggal 20 November 1965.

Tuesday, 2 February 2010


Ramainya Perzinaan dan Aborsi bertolak Belakang dengan Perjuangan Pak Zaki Mendapatkan Anak Dengan Berbagai Macam Cara, Dari Cara Modern sampai Cara unik, Mana yang Berhasil?, beliau menikahi si Cantik Lisa, saat itu mereka sangat bangga dan bahagia. Kini Dua puluh tahun menikah, belum mempunyai anak. Lisa sudah lama mengizinkan suaminya menikah lagi setelah Berbagai usaha seperti: ke Dokter Ahli, memelihara anak pancingan, dan bayi Tabung, semuanya gagal, hanya satu jalan terakhi, disamping berdoa dan bertawakkal.

"Lis, abang mau tanya pendapatmu, sekarang abang sudah berusia 50 tahun, abang ingin ada anak kandung yang shalih yang meneruskan keturunan, mendoakan abang. Tadi siang, teman kantor abang Gadis 39 tahun memberi sinyal sindiran siap menjadi Istri kedua, abang menolaknya secara halus, lagipula dia bilang orang tuanya tidak setuju jika anaknya dijadikan istri kedua" kata Zaki sambil tiduran membaca buku di springbed yang empuk.

"Kalau begitu, apakah abang menjadi berfikir akan menceraikan aku?" tanya Lisa.

"kenapa kamu berfikir begitu? Tidak pernah terlintas di fikiran untuk menceraikanmu, abang sangat sayang padamu, abang tak mau menceraikanmu, biarlah abang terus berdoa, walaupun kita makin lama makin tua, abang yakin Allah mendengar doa doa kita Lis" jawab Zaki, dengan mata agak melotot.

"Habis… abang bilang perempuan itu orangtuanya tak setuju dimadu, terus bagaimana lagi bang, dokter-dokter sudah memvonis aku mandul, aku tidak mau dicerai, lebih baik aku ridha bila abang menikah lagi, kalau perlu aku beri izin tertulis untuk teman kantor abang itu. Kasihan dia sudah perawan tua, umur sudah 39 tapi belum menikah, makin tinggi resikonya bila harus melahirkan anak pertama di usia 40." kata Lisa sambil menyisir rambut di depan meja riasnya.

"Bukan begitu Lis, masalahnya abang tidak begitu sayang padanya, cuma kasihan, abang kuatir tidak bisa berlaku adil, walaupun dia lebih muda, lebih cantik dari kamu, tapi abang lebih sreg hidup berdampingan denganmu, kalau akhlaq dia mirip dengan akhlaqmu mungkin lain ceritanya"

"Tapi bang, rumah kita makin sepi saja, sejak Marni pergi, karena harus mengikuti suami" Marni adalah keponakan Lisa, yang sejak kecil dipelihara sebagai anak pancingan.

"Sabarlah Istriku yang paling cantiiq…. di Dunia..., kita masih punya Allah yang maha kuasa. Bukankah setiap hari kita berdoa, mungkin Allah masih menguji dan suka dengan indahnya doa doa kita, agar kita lebih rajin berdoa seperti doanya nabi Zakaria as:

Ya Tuhanku Janganlah engkau membiarkanku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris yang paling baik"

***

Dari tahajjud ke tahajjud, dhuha ke dhuha, Pak Zaki berdoa dengan baju putih dan berpeci Haji mirip Ustad Arifin Ilham, walaupun Pak Zaki belum mampu berhaji, Pak Zaki terus berdoa berulang ulang berdoa seperti Doanya nabi Zakaria.

Pak Zaki merasa cobaan yang menimpanya belum ada apa apanya dibanding cobaan orang-orang dahulu, para mujahid, apalagi cobaan Para Nabi.

"Lis, beginilah Dunia, kita setiap hari berdoa meminta keturunan, sementara banyak Pezina yang aborsi membunuh bayi dalam kandungannya.

Ada pula orang yang begitu mudahnya menikah sehingga begitu mudahnya bercerai hanya karena merasa bisa mencari nafkah sendiri tanpa suami, sementara banyak perawan tua seperti Rina, hampir berumur 40tahun belum ada yang serius melamarnya."

"iya Bang, setiap manusia akan mendapat ujian yang berbeda beda, Allah maha adil dengan menciptakan akhirat"

"hehe Pinter kamu Lis, di Dunia ini banyak manusia yang bertindak zalim yang akan diadili seadil-adilnya di Akhirat nanti, sekarang mereka mungkin bisa lolos pengadilan dunia"

"hehe pinter dong... siapa dulu Suaminya.. yang ahli mendidik Istri", kata Lisa sambil tersenyum manis memamerkan gigi-giginya yang putih berbaris rapi.

***

"Assalamualaykum..... Tok tok tok tok" terdengar suara merdu wanita dan suara pintu diketok.

"Waalaykumussalam ..."Jawab Pak Zaki bergegas menuju pintu, begitu pintu dibuka, kagetlah Pak Zaki, yang datang adalah teman kantornya si Rina yang tadi siang me"nembak" Pak Zaki dengan sindiran halus

"Maaf Pak, saya mau silaturahmi boleh ya?" kata si Rina dengan Jilbab Putih Rapi, Gamis longgar, membawa tas kulit, terlihat cantik sekali..

"Ya Boleh…., silakan masuk" jawab Pak Zaki
sambil berjalan masuk, disusul Rina, dan Lisa bergegas keluar kamar langsung nimbrung ke ruang tamu.

"Apa kabar, Rin?, tumben.. mampir, kenalkan ini istriku si Cantik Lisa, hehe, Lis… ini teman kantor abang yang tadi abang ceritakan" kata Pak Zaki

"Kabar baik Pak, mbak Lis,.. maaf saya mengganggu sebentar, mampir sebentar sekalian menawarkan Madu Sari Kurma dan Madu Asli harganya lebih murah 10% dibanding beli di apotik, karena saya langsung dapat barang dari produsennya Pak."

"oh yaa.." Jawab Lisa

"Iya mbak… Produk saya ini sangat bagus buat kesehatan suami istri, Buah Kurma terkenal baik untuk kehamilan dan melahirkan, guru saya sudah membuktikannya mbak" kata Rina

"Oh yaa…., maaf mbak saya nggak tertarik" jawab Lisa

"ya sudah… sari Kurma satu botol harganya berapa?" tanya Pak Zaki

"25 ribu Pak" tegas Rina

"Nggak usah lah bang…" Jawab Lisa

"Maaf ya Rin, istri saya nggak suka Kurma"

"Ya nggak apa apa Pak, kalau begitu saya permisi dulu, assalamu’alaykum" Jawab Rina sambil bergegas pergi.

***

Beberapa Menit Kemudian, Setelah Rina pergi

"Kamu cemburu ya..."

"ah nggak, siapa yang cemburu?" jawab Lisa dengan bibir agak cemberut

"ya kamu... Hehe… dia kan cuma dagang barang bagus, kenapa kamu menolak, siapa tahu, Allah menggerakkan kaki si Rina memberi kita petunjuk agar kita meminum Kurma, mungkin saja kita bisa punya anak lewat cara itu"

"sudahlah bang, jangan terlalu berharap, aku kan sudah beri kamu izin menikah lagi " jawab Lisa

"bukan begitu kita wajib berusaha semampunya untuk kebaikan kita, soal menikah lagi abang tidak mau sama dia"

***

Esoknya,

Pak Zaki dan Istrinya pergi ke pengajian rutin bulanan ahad pertama. karena Musim hujan, Sore, Setelah Ashar, Langit Penuh Awan Gelap, Hujan Lebat, saat pulang turun dari angkot, kehujanan, entah kenapa mereka lupa membawa payung, hujan begitu lebatnya, tiada sempat berteduh, baju mereka basah ealaupun sudah berlari, karena merasa kepalang basah mereka melanjutkan berjalan kaki menuju rumah dalam keadaan basah kuyup, bergandengan tangan, senyum-senyum dan bercanda mesra, mandi hujan, mereka saling menginjak genangan air sampai menyiprat ke bagian tubuh, bagaikan tingkah canda anak kecil bermain Hujan.

Sesampainya di rumah, Hujan masih deras
masih berlanjut canda mesra, Pak Zaki tiba-tiba mengunci pintu, dan langsung menuntun istrinya yang lepek basah kuyup ke kamar, pak Zaki mengajak Istrinya berdoa membaca bismillah Allahumma Janibna Syaithan wa Janibissyaithan ma razaqtana, Lisa sudah faham maksud suaminya, mereka melanjutkan kemesraan melakukan Ibadah menambah pahala yang hanya dibolehkan khusus untuk suami istri.

Setelah Mereka Beribadah khusus, lalu Mandi Janabah, dilanjutkan Mereka Siap-siap Untuk beribadah shalat Maghrib. Membaca AlQuran, lalu Pak Zaki Asyik membaca-baca informasi di Google, dengan kata kunci “Keturunan” “anak” “obat alami kemandulan” dan lain lain.

Akhirnya, Pak Zaki menemukan website Islami yang mengatakan bahwa salah satu program untuk mempunyai keturunan ialah suami Istri Mandi Hujan Bersama sampai basah kuyup.

“Subhanallah… Lis barusan ibadah kita tanpa sengaja dengan mandi hujan sebelumnnya adalah salah saru cara mempercepat mendapatkan keturunan dan di website lainnya juga ditulis ada Kurma yang khusus bisa menambah keturunan”

“Ah masa bang?” Lisa segera menghampiri suaminya

“Mari kita berdoa lagi Lis, Ya Allah Tuhanku Janganlah engkau membiarkanku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris yang paling baik"

“Tadi kita sudah mandi Hujan, sekarang Yuk silakan Minum Sari Kurmanya” kata Lisa

“Lho… kamu beli sari Kurma di Mana?” Pak Zaki terheran.

“tadi di Halaman Tempat Pengajian ada yang Jual, hehe…”

“Dasar kamu yaa… pake gengsi di hadapan Rina”

“Ya iya lah… masa ya iya dong”

Beberapa Minggu Kemudian mereka membeli Test Pack,
Lisa terlihat mengeluarkan air mata, menangis lagi melihat hasil tes kehamilan itu, yang sudah berkali-kali dibeli dan berlangganan di Apotik si Engkoh.

Subhanallah Lisa dan Suaminya memang mendapat Ujian Kesabaran, dan kesabaran itu biasanya berujung sebagai DP persekot, penghuni surga, Allah maha besar, ternyata test pack Lisa Positif Hamil.
Ambil Hikmah dari Kisah ini yang bisa saja terjadi di masa kini.

Tuesday, 15 December 2009



UNIVERSITAS ISLAM INDRAGIRI TEMBILAHAN

KENDATI baru satu tahun beroperasi, minat masyakat untuk melanjutkan pendidikan buah hati mereka di Universitas Islam Indragiri (Unisi) Tembilahan terus mengalami peningkatan. Buktinya, meskipun baru 10 hari dibuka pendaftaran bagi mahasiswa tahun ajaran 2009/2010, namun 1000 lembar formulir pendaftaran yang disiapkan pihak Rektorat habis diserbu calon mahasiswa.

Menurut Wakil Rektor I Unisi H Abdullah mengatakan, sejak dibuka penerimaan mahasiswa baru pada 1 Juni lalu, setiap harinya puluhan calon mahasiswa mengambil formulir pendaftaran yang disiapkan rektorat. Bahkan, dalam 10 hari saja, sebanyak 1000 formulir pendaftaran yang disiapkan habis diserbu calon mahasiswa perguruan tinggi Islam tersebut.

“Karena pendaftaran pada gelombang pertama ini dibuka hingga pertengahan bulan Juli nanti, kita kembali menyiapkan 1000 lembar formulir lagi. Jadi bagi calon mahasiswa yang belum mendapatkan formulir tak usah khawatir karena kita akan menambah jumlah formulir,” ujar Abdullah kepada Riaufocus, Jumat (12/6).

Fenomena ini, lanjutnya, menunjukkan tingginya minat masyarakat Inhil agar anak-anak mereka dapat melanjutkan pendidikan di Universitas yang pertama di Kabupaten/Kota di Provinsi Riau itu. Dikatakannya, meskipun baru satu tahun berdiri, Unisi yang memiliki Fakultas Hukum, Pertanian, Teknik dan Ilmu Komputer, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Ekonomi telah memiliki 2144 mahasiswa.

“Minat masyarakat Inhil untuk kuliah di Unisi ini luar biasa, padahal pengumuman kelulusan tingkat SLTA belum ditetapkan. Namun banyak siswa telah mengambil formulir sebagai persiapan ketika lulus nanti. Dari 1000 formulir ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan merupakan jurusan terbanyak yang diminati,” katanya.

Monday, 7 December 2009

Mengenal Pengarang Mawlid Simtood Durror, Habib Ali Al Habsy

Maulid Habsyi - Simthud-Durar fi akhbar Mawlid Khairil Basyar min akhlaqi wa awshaafi wa siyar" atau singkatannya "Simthud-Durar" adalah karangan maulid junjungan nabi Muhammad SAW yang disusun oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi (1259H - 1333H/1839M - 1913M).

Kelahiran:
Beliau, al-Habib ‘Ali bin Muhamamd al-Habsyi dilahirkan di Qasam pada hari Jum’at, 24 Syawwal 1259H. Namanya ‘Ali telah diberikan oleh al-‘Allamah Sayyid ‘Abdullah bin Hussin bin Thahir sempena mengambil berkat dari al-Habib ‘Ali Khali’ Qasam

Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.
Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang.

Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.

Nasab beliau:
Ali bin Muhammad bin Hussin bin ‘Abdullah bin Syaikh bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Hussin bin Ahmad Shahib asy-Syi’b bin Muhammad Asghar bin ‘Alwi bin Abu Bakar al-Habsyi bin ‘Ali bin Ahmad bin Muhammad Asadullah bin Hasan at-Turabi bin ‘Ali bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin ‘Alwi bin Muhammad bin’Alwi bin’Ubaidullah bin al-Muhajir Ahmad bin ‘Isa al-Rumi bin Muhammad al-Naqib bin ‘Ali al-Uraidhi bin Ja’far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Hussin al-Sibth putera kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah al-Zahra’ binti Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.

Ayahandanya adalah merupakan Mufti Syafi’iyyah di Makkah sejak tahun 1270H menggantikan Syaikh Ahmad Dimyathi yang wafat. Setelah kewafatan Habib Muhammad bin Hussin al-Habsyi, tempatnya diganti oleh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. [Diantara ulama Melayu yang sempat berguru kepada Habib Muhammad bin Hussin al-Habsyi ialah Syaikh Arsyad Thawil Banten, Jawa Barat. Beliau juga berguru kepada al-Muhaddits Habib Hussin bin Muhammad bin Hussin al-Habsyi. Syaikh Mahfuz Termas juga belajar hadits kepada al-Muhaddits Habib Hussin bin Muhammad al-Habsyi, iaitu saudara kepada Habib ‘Ali al-Habsyi
IBunda beliau yang berasal dari Syibam adalah seorang sayyidah shalihah, ‘arifahbillah dan da’iyyah ilallah ‘Alawiyyah binti Hussin bin Ahmad al-Hadi al-Jufri.Saudara beliau: AbduLlah, Ahmad, Hussin, Syeikh dan Aminah

Pendidikan dan guru-guru beliau: Sejak beliau dididik oleh ayahanda beliau, Habib Muhammad bin Hussin al-Habsyi [- ayahanda beliau berangkat ke Mekah dan tinggal disana ketika usia Habib ‘Ali 7 tahun. Dan urusan pendidikan beliau seterusnya diambil oleh bonda beliau -] dan bonda beliau Hababah ‘Alawiyyah binti Hussin al-Hadi al-Jufri. Seterusnya beliau belajar kepada:
Habib Hasan bin Shaleh al-Bahr
Al-‘Allamah Habib Abdullah bin Hussin bin Thahir (syaikh fath dan tahkim kepada ayahanda beliau)
Habib Abu Bakar bin ‘Abdullah al-‘Athash (shaikh fath beliau)
Al-‘Allamah Habib Umar bin Hasan bin ‘Abdullah al-Haddad
Al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur
Habib ‘Ali bin Idrus bin Syihabuddin
Habib Umar bin ‘Abdurrahman Bin Syahab
Habib Mohsin bin ‘Alwi al-Saggaf
Habib ‘Abdul Qadir bin Hasan bin Umar bin Saggaf
Habib Muhammad bin ‘Ali bin ‘Alwi al-Saggaf
Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar
Habib ‘Idrus bin Umar al-Habsyi
Sayyid ‘Abdullah bin Hussin bin Muhammad
Syaikh Muhammad bin Ibrahim


Habib Ali juga pernah menimba ilmu di Makkah ketika ayahnya pindah dan tingggal di sana.atas permintaan sang ayah, pada usia 17 tahun ia berangkat ke sana bersama rombongan haji dan belajar selama 2 tahun. Setelah itu ia kembali ke Seiwun dan mengambil ilmu dari tokoh-tokoh ulama di sana.
Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsy telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Qur’an dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zhahir dan bathin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, ia diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan seramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai. Sehingga, dengan cepat sekali ia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadnya diserahkan tampuk kepemimpinan tiap majelis ilmu, lembaga pendidikan, serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.
Selanjutnya, ia melaksanankan tugas-tugas suci yang dipercayakan kepadanya dengan sebaik-baiknya. Ia menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan, dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, disamping membangkitkan semangat mereka.dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.
Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid Riyadh di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan dan minum. Sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.
Bimbingan dan asuhan darinya yang seperti itu telah memberikan kepuasan yang tak terhingga baginya, hingga ia menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicita-citakannya, kemudian meneruskan serta mensyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh. Bukan saja di daerah Hadhramaut, tetapi juga tersebar luas ke beberapa negeri lainya, di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.
Di tempat-tempat itu mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan syiar agama. Mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majelis-majelis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.

Murid-murid Habib Ali antara lain adalah anak-anaknya sendiri, Abdullah, Muhammad, Ahmad, dan Alwi. Juga saudaranya, habib Syaikh bin Muhammad, dan kemenakannya, Habib Ahmad bin Syaikh. Kemudian Habib Ja’far bin Abdul Qadir bin Abdurrahaman bin Ali bin Umar bin Segaf Assegaf, Habib Muhammad bin Hadi bin Hasan Assegaf, Habib Muhsin bin Abdullah bin Muhsin Assegaf, Habib Salim bin Shafi bin Syekh Assegaf, Habib Ali bin Abdul Qadir bin Salim bin Alwi Al-Idrus, Habib Abdullah bin Alwi bin Zain Al-Habsy, dan banyak lagi yang lainnya.
Murid-muridnya yang mencapai derajat alim dalam ilmu fiqh dan lainnya, selain yang menetap di Ribath, antara lain Habib Thaha bin Abdul Qadir bin Umar Assegaf, Habib Umar bin Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Habib Alwi bin Segaf bin Ahmad Assegaf, Syaikh Hasan, Syaikh Ahmad, dan Syaikh Muhammad bin Muhammad Baraja.
Selain murid-murid yang benar-benar belajar kepadanya, ada pula orang-orang yang selalu bersamanya dan seperti muridnya sendiri, yakni Habib Abdullah bin ahmad bin Thaha bin Alwi Assegaf, Habib Alwi bin Ahmad bin Alwi bin Segaf Assegaf, Syaikh Ahmad bin Ali Makarim, Syaikh Ahmad bin Umar Hassan, Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Zain bin Hadi bin Ahmad Basalamah, dan Syaikh ‘Ubaid bin Awudh Ba Fali.

Wafatnya Habib Ali
Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.
Allahumma sholli wa sallim asyrafas shoolati wat taslim‘ala Sayyidina wa Nabiyiina Muhammadi-nir Ra-ufir Rahim.Allahumma sholli wa sallim wa baarik ‘alaihi wa ‘ala aaalih.

Sumber: Alfansuri dan berbagai sumber

ini Link Maulid Habsyi Yang dibawakan Oleh Haddad Alwi